Muhammad Ikbal, Menyalakan Mimpi Anak-Anak Sambas
Menjadi Guru Bimbingan dan Konseling (BK), adalah pilihan
hidup Ikbal yang patut disyukurinya. Sebab dengan ilmu BK tersebut, ia bisa
memaknai dirinya sebagai guru seutuhnya. Ikbal tak ingin tugasnya sebagai guru
hanya sekadar men-transfer ilmu. Karena
ia mengerti, ada yang lebih penting dari itu, yaitu mendidik.
Di Tanah Sambas, yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah
kelahirannya, Ikbal berupaya menyalakan mimpi anak-anak di sana dengan ilmunya
itu.
Berbekal ilmu BK inilah, Ikbal mampu memahami permasalahan
siswa. Mengapa siswa sulit belajar? Atau mengapa ia nakal? Sebelum berhasrat
untuk menghukum siswa, Ikbal terlebih dahulu mendeteksi akar permasalahannya.
“Semua yang terjadi pada siswa pasti ada sebabnya. Jadi
jangan cepat sekali memvonis,” ucapnya.
Pernah sekali waktu, ada siswanya yang ketahuan pacaran. Di
sekolahnya, pacaran tergolong pelanggaran keras. Siswa itu menangis karena baru saja dimarahi
gurunya. Ikbal tak tega.
Ikbal pun mengajak anak itu berbicara. Menanyakan latar
belakang keluarganya. Ternyata, anak ini berasal dari keluarga broken home. Orang tuanya bercerai. Ia
pun tinggal di gubuk reyot bersama ibunya.
“Dengan kondisi seperti itu, warna apa yang dia cari? Itulah
yang dicarinya dengan pacaran,” ujar Ikbal.
Di sisi lain, Ikbal menilai, tak sedikit guru yang hanya
tertarik dengan siswa yang ceria. Termasuk yang pandai bicara dan memiliki
fisik yang bagus. Sementara siswa yang tak masuk kriteria tersebut, kerap
diabaikan.
“Ya buktinya Ikbal, karena waktu sekolah dulu kurang tampan,
jadi gak gitu dipandang,” kenangnya
sambil tertawa.
Karena itulah, Ikbal bersyukur, Ilmu BK mampu memberikannya
prespektif lain dalam menilai siswa. Ia mampu memahami apa yang dirasakan
siswa. Dengan demikian, ia mengerti solusi apa yang tepat untuk mengatasi
permasalahan siswa tersebut. Terkadang,
Ikbal juga mendatangi orang tua siswa untuk mendiskusikan permasalahan anaknya.
Kecintaan Ikbal pada ilmu BK tidak lahir begitu saja. Awalnya,
ia sempat merasa salah pilih jurusan setelah setahun kuliah. Ikbal ingin pindah
kuliah, namun orang tuanya melarang
karena sudah banyak uang yang habis untuk kuliahnya itu. Sementara di
keluarganya, hanya dirinya yang kuliah.
Tapi tekad lelaki kelahiran Sigli ini sudah bulat. Ikbal tak
ingin menghabiskan waktunya dengan sesuatu yang tak dicintainya. Ikbal kemudian
memilih pendidikan BK di USK. Alasannya, ia sadar kemampuannya terbatas.
Sementara jurusan tersebut jarang diminati, sehingga peluangnya untuk lulus
besar.
Selain itu, trauma masa lalu turut menguatkan tekad Ikbal
untuk memilih BK. Ikbal mengakui, dirinya adalah korban bullying semenjak
sekolah. Lalu, ada satu kejadian yang mengubah pikirannya terhadap pendidikan.
Cerita ini ketika ia masih SMP. Ikbal tergolong anak yang
baik. Lalu sekali waktu ia telat datang upacara. Hanya sekali itu Ikbal
terlambat. Namun gurunya langsung marah dan memvonisnya sebagai anak yang
nakal.
“Rasanya langsung Nyess,” ucapnya.
Seperti dirinya, Ikbal juga menilai, anak-anak Sambas ini
sejatinya anak yang baik, bahkan pintar. Hanya saja mereka kurang motivasi.
Pernah ia bertanya kepada muridnya yang juara 1. Apa cita-citanya setelah
tamat? Dengan polosnya, anak itu menjawab paling tidak berjualan pakaian di
Sambas atau jadi pengasuh.
Ikbal terkejut dengan jawabannya itu. Kok Pengasuh? Adakah
saudaramu pengasuh? Tanya Ikbal.
“Ada Pak,
karena saya lihat sepupu saya pengasuh, makanya saya jadi pengasuh,” Ikbal
terdiam mendengar jawaban siswanya itu.
Hal-hal seperti inilah, yang terkadang menguatkan tekadnya
sebagai guru. Meskipun jauh dari tanah kelahirannya. Terasing dari berbagai
fasilitas. Namun Ikbal berupaya menjadi sebenar-benarnya guru bagi siswanya.
Di sekolahnya, Ikbal dipercaya sebagai Wakil Kepala Urusan
Kurikulum. Sejumlah program pengembangan diri ia lakukan. Misalnya, menyediakan
buku-buku motivasi yang tidak kaku bagi siswa. Ikbal juga meminta peraturan di
sekolah tidak terlalu mengekang siswa. Alhasil, jumlah siswa di sekolahnya itu
tiap tahun terus bertambah.
Di Tanah Sambas, Ikbal tinggal bersama istrinya Widia
Permatasari Tarigan, Perempuan asal Medan ini juga guru BK di SMAN 1 Sejangkung. Kini, mereka juga dikaruniai seorang putra bernama Hafid
Rafan Alfarizki.
Nun jauh di tanah
kelahiran mereka inilah, keluarga kecil ini berjuang untuk melanjutkan hidup,
dan menyalakan mimpi anak-anak Sambas.



0 Komentar