Menjadi Guru Bimbingan dan Konseling (BK), adalah pilihan hidup Ikbal yang patut disyukurinya. Sebab dengan ilmu BK tersebut, ia bisa memaknai dirinya sebagai guru seutuhnya. Ikbal tak ingin tugasnya sebagai guru hanya sekadar men-transfer ilmu. Karena ia mengerti, ada yang lebih penting dari itu, yaitu mendidik.


Di Tanah Sambas, yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, Ikbal berupaya menyalakan mimpi anak-anak di sana dengan ilmunya itu.

Berbekal ilmu BK inilah, Ikbal mampu memahami permasalahan siswa. Mengapa siswa sulit belajar? Atau mengapa ia nakal? Sebelum berhasrat untuk menghukum siswa, Ikbal terlebih dahulu mendeteksi akar permasalahannya.

“Semua yang terjadi pada siswa pasti ada sebabnya. Jadi jangan cepat sekali memvonis,” ucapnya.

Pernah sekali waktu, ada siswanya yang ketahuan pacaran. Di sekolahnya, pacaran tergolong pelanggaran keras.  Siswa itu menangis karena baru saja dimarahi gurunya. Ikbal tak tega.

Ikbal pun mengajak anak itu berbicara. Menanyakan latar belakang keluarganya. Ternyata, anak ini berasal dari keluarga broken home. Orang tuanya bercerai. Ia pun tinggal di gubuk reyot bersama ibunya.

“Dengan kondisi seperti itu, warna apa yang dia cari? Itulah yang dicarinya dengan pacaran,” ujar Ikbal.

Di sisi lain, Ikbal menilai, tak sedikit guru yang hanya tertarik dengan siswa yang ceria. Termasuk yang pandai bicara dan memiliki fisik yang bagus. Sementara siswa yang tak masuk kriteria tersebut, kerap diabaikan.

“Ya buktinya Ikbal, karena waktu sekolah dulu kurang tampan, jadi gak gitu dipandang,” kenangnya sambil tertawa.

Karena itulah, Ikbal bersyukur, Ilmu BK mampu memberikannya prespektif lain dalam menilai siswa. Ia mampu memahami apa yang dirasakan siswa. Dengan demikian, ia mengerti solusi apa yang tepat untuk mengatasi permasalahan siswa tersebut.  Terkadang, Ikbal juga mendatangi orang tua siswa untuk mendiskusikan permasalahan anaknya.

Kecintaan Ikbal pada ilmu BK tidak lahir begitu saja. Awalnya, ia sempat merasa salah pilih jurusan setelah setahun kuliah. Ikbal ingin pindah kuliah, namun orang  tuanya melarang karena sudah banyak uang yang habis untuk kuliahnya itu. Sementara di keluarganya, hanya dirinya yang kuliah.

Tapi tekad lelaki kelahiran Sigli ini sudah bulat. Ikbal tak ingin menghabiskan waktunya dengan sesuatu yang tak dicintainya. Ikbal kemudian memilih pendidikan BK di USK. Alasannya, ia sadar kemampuannya terbatas. Sementara jurusan tersebut jarang diminati, sehingga peluangnya untuk lulus besar.

Selain itu, trauma masa lalu turut menguatkan tekad Ikbal untuk memilih BK. Ikbal mengakui, dirinya adalah korban bullying semenjak sekolah. Lalu, ada satu kejadian yang mengubah pikirannya terhadap pendidikan.

Cerita ini ketika ia masih SMP. Ikbal tergolong anak yang baik. Lalu sekali waktu ia telat datang upacara. Hanya sekali itu Ikbal terlambat. Namun gurunya langsung marah dan memvonisnya sebagai anak yang nakal.

“Rasanya langsung Nyess,” ucapnya.

Seperti dirinya, Ikbal juga menilai, anak-anak Sambas ini sejatinya anak yang baik, bahkan pintar. Hanya saja mereka kurang motivasi. Pernah ia bertanya kepada muridnya yang juara 1. Apa cita-citanya setelah tamat? Dengan polosnya, anak itu menjawab paling tidak berjualan pakaian di Sambas atau jadi pengasuh.

Ikbal terkejut dengan jawabannya itu. Kok Pengasuh? Adakah saudaramu pengasuh? Tanya Ikbal.

“Ada Pak, karena saya lihat sepupu saya pengasuh, makanya saya jadi pengasuh,” Ikbal terdiam mendengar jawaban siswanya itu.

Hal-hal seperti inilah, yang terkadang menguatkan tekadnya sebagai guru. Meskipun jauh dari tanah kelahirannya. Terasing dari berbagai fasilitas. Namun Ikbal berupaya menjadi sebenar-benarnya guru bagi siswanya.

Di sekolahnya, Ikbal dipercaya sebagai Wakil Kepala Urusan Kurikulum. Sejumlah program pengembangan diri ia lakukan. Misalnya, menyediakan buku-buku motivasi yang tidak kaku bagi siswa. Ikbal juga meminta peraturan di sekolah tidak terlalu mengekang siswa. Alhasil, jumlah siswa di sekolahnya itu tiap tahun terus bertambah.

Di Tanah Sambas, Ikbal tinggal bersama istrinya Widia Permatasari Tarigan, Perempuan asal Medan ini juga guru BK di SMAN 1 Sejangkung.  Kini, mereka  juga dikaruniai seorang putra bernama Hafid Rafan Alfarizki.

 Nun jauh di tanah kelahiran mereka inilah, keluarga kecil ini berjuang untuk melanjutkan hidup, dan menyalakan mimpi anak-anak Sambas.

 

 

 

 

 

0 Komentar