Menjadi Abah
Rasanya baru kemarin Abah membawaku ke tukang pangkas di Kota Kuala Simpang. Dimintanya kepada tukang pangkas agar potongan rambutku tak terlalu tipis. Selama rambutku dipotong, mata Abah selalu awas memperhatikanku.
Selepas itu, kami pun berjalan kaki ke pajak pagi. Menikmati martabak telur terbaik di kota ini.
Rasanya baru pagi tadi. Emak mengikat kakiku agar tak terkena jari-jari sepedanya. Ia bergegas membawaku ke Puskesmas Kampung Durian karena demamku tak kunjung turun.
Sepulangnya, Emak sengaja tak pergi menyadap getah karet. Dijaganya aku hingga benar-benar pulih.
Dan pagi tadi, saat aku terjebak di ruang tunggu. Sementara istri berjuang demi buah hati kami.
Saat itulah kurenungi semua lakon cinta yang telah Abah dan Emak berikan.
Rasa-rasanya hampir tak mungkin, jika aku harus mengikuti jejak ketulusan hati mereka sebagai orang tua.
Aku merasa tak berdaya, jika harus mengambil peran-peran besar itu seorang diri.
Lalu, pagi tadi pukul 06:53 WIB. Ketika suara tangis buah hati kami pecah. Dalam keharuan kutemukan energi cinta.
Perasaaan tak berdaya yang mulanya kukhawatirkan, kini perlahan mengurai menjadi keyakinan.
Selamat Datang Nak.
Dirimu lahir pada waktu yang baik. Pada Jumat, selepas Subuh, dalam derasnya hujan dan di hari lahirnya baginda Rasulullah.
Semoga sepanjang hayatmu kelak, adalah hari-hari yang kau jejaki dengan rangkaian kebajikan pula.
Selamat datang penyejuk mata.
Izinkan aku dan ibumu mengambil peran-peran besar itu.
Izinkan aku menjadi Abah yang selalu melekat di hatimu.

0 Komentar